Selasa, 09 Agustus 2011

Sepotong Pizza Gempa 2009

Hari itu merupakan hari yang bersejarah dalam perjalanan hidupku, betapa tidak telah 35 tahun usiaku, barulah kejadian yang hari tersebut yang dampaknya masih terasa sampai hari ini terutama di Kota Padang di mana aku tinggal. Kejadian tersebut menjadi pembicaraan dimana-mana, menjadi perhatian di seluruh Indonesia malahan dengung dan perhatiannya juga diberikan oleh masyarakat dunia. Peristiwa itu adalah Gempa 30 September 2009 yang melanda Kota Padang dan beberapa Kota/Kabupaten lainnya di Sumatera Barat. Gempa yang berkekuatan 7,6 Skala Richter tersebut telah meluluhlantakkan bumi ranah minang dan meninggalkan kesedihan pada berjuta masyarakat Sumbar serta merubuhkan ribuan bangunan ataupun gedung-gedung.


Hari itu bersama sang Istri, aku sedang mencari pesanan seorang teman yang membutuhkan HP Nexian Berry yang memang lagi naik daun. Setelah selesai sholat Ashar di Masjid Taqwa Muhammadiyah, kami langsung ke daerah pecinan di Pondok dan ternyata di Sinar Telekomunikasi tersebut apa yang kami cari kebetulan telah habis dan istri hanya menukar casing nokia 3120 classicnya yang kebetulan sudah banyak noda-noda bekas makan tangan si kecil Ghozi. Kami langsung menuju XL center di jalan A. Yani yang dari berita koran sedang menbundling Nexianberry tersebut. Akan tetapi setelah sekian lama menunggu antrian kami kembali mendapatkan info bahwa mereka juga sedang kehabisan stok dan sudah banyak yang indent. Okelah, kami pikir memang belum nasibnya sang teman mendapatkan gadget yang diharapkannya. Oh ya lupa, Rita istriku sedang berbisnis kecil-kecilan dengan jualan HP secara kredit.


Dengan si megapro hijau, kami meninggalkan XL center dan sewaktu lewat didepan pizza hut (taglinenya “mau makan pizza terlezat?”) ternyata istriku ingin mencoba kejujuran tagline tersebut dan hari itu juga sedang promo menu baru (lupa apa namanya). Jadilah kami dilayani oleh si pramusaji dengan memesan menu promo yang small dan spagheti tuna small plus melon dan aqua botol sedang. Cukup lama juga menunggu karena sedang banyak customer yang sewaktu kulayang pandangan banyak diantara mereka yang berseragam sekolah serta para ABG. Aku sudah menghabiskan spagheti tunaku dan sudah juga mencomot sepotong menu promo pesanan sang istri dan waktu itulah Gempa menggoyang dimana istriku responnya sangat cepat dan dia segera berlari keluar dan kebetulan kami mengambil tempat duduk dekat pintu keluar. Sesampai diluar bangunan pizza hut inilah gempa yang 7,6 SR itu datang, menggoyang,..menggeram,…kami semua terjatuh saking kerasnya goyangan gempa. Kulihat istriku dan orang-orang yang ada menangis, bertakbir, dan ada pramusaji yang pingsan dan si megapro sudah terbaring pingsan dihimpit oleh 2 mio dan 1 beat.


Gempa kemudian berhenti dan kepanikan semakin menjadi karena dijalanan mobil, sepeda motor dan orang berlarian menuju arah berlawanan dengan lautan. Kepanikan akan datangnya si tsunami yang mengerikan. Kucoba menelpon kerumah mencek bagaimana anak-anakku sementara Rita terus menangis menanyakan bagaimana anak-anak (Hafiz di rumah sendirian di Taruko II dan sementara Syakira dan Ghozi bersama Rika di Kotobaru) tetapi tidak nyambung. Pada saat itulah (jam 5.54) berhasil kukirim berita ke akun facebook tentang kondisi yang melanda Kota Padang. Dengan susah payah kubangunkan megapro yang telah banyak mengeluarkan bensin dari himpitan teman-temannya dan segera kami meninggalkan pizza hut (belum bayar waktu itu karena tak ada lagi orang di dalam dan para pramusaji juga sudah pergi kerumah masing-masing dan barulah seminggu kemudian setelah pizza hut kembali buka, aku kesana untuk bayar hutang pizza yang kami makan, tetapi si kasir tak mau terima uang kami karena sudah dianggap lunas, makan pizza gratis dong jadinya).


Jalanan macet total, ribut bunyi klason ditambah jeritan panik orang-orang. Didepan Bank Indonesia Jalan Sudirman aku melihat kebakaran dibeberapa titik dan kami melihat sudah banyak bangunan yang roboh, hancur. Dengan hati-hati kami mengendarai Megapro menyusuri jalan Sudirman arah ke Tarandam, macet total. Bisa juga nyampai di Sawahan, ups hampir jatuh dan ditabrak oleh motor orang lain. Tapi di depan DPRD Padang di jalan Sawahan kemacetan tidak bisa ditembus, tidak bergerak malahan karena ribuan kendaraan bermotor dan ribuan orang yang panik menjubeli jalanan apalagi kepanikan terbesar ada di adira Sawahan yang runtuh dan banyak orang yang terperangkap di dalamnya. Aku membelok arah sawahan dalam (tepatnya di depan kantor PPP Kota Padang) dan disana juga ada kebakaran. Disini barulah telpon flexi yang dipegang nyambung dan agak sedikit mengurangi kepanikan Rita karena Ghozi dan Syakira baik-baik saja. Dengan perlahan akhirnya sampai di depan PLN Sawahan dan macet total lagi di jembatan Ganting-Seberang Padang. Dengan nekat aku mengangkat si mega pro ke trotoar Jembatan yang lumayan tinggi yang akhirnya bisa juga aku melewati jembatan dan kami menyusuri tepian sungai batang Arau yang biasanya hanya satu atau dua kendaraan bermotor yang melewatinya tapi pada hari itu juga macet.


Sesampai di Kotobaru Lubeg, kepanikan masih ada diwajah masyarakat disana apalagi Supermarket Kotobaru runtuh dan Istri dari pemilik supermarket terperangkap di dalamnya. Kulihat Ghozi sedang digendong oleh Rika dan kami segera menuju rumah emak di tepi bantaran batang arau tersebut. Ternyata sewaktu terjadi gempa mereka sedang makan dan si kakak (Syakira biasanya dipanggil begitu) sedang makan dengan lezatnya sehingga agak payah juga Rika menggotongnya keluar dan berlari ke arah lapangan.


Selesai Sholat Magrib, kami pulang ke Taruko II karena bagaimana kondisi anak sulung kami, si Hafiz, belum kami dapatkan. Kami melewati masyarakat yang sedang berkerumun di depan supermarket kotobaru dan berusaha mengeluarkan si ibu sang pemilik supermarket yang baru keesokan harinya berhasil dikeluarkan dalam kondisi telah meninggal dunia. Menyusuri jalanan Kotobaru, banuaran, dan parak laweh Lubuk Begalung tidak terlalu rame tapi sesampai di bypass kembali terpampang kemacetan total, tak bisa bergerak boo, bising dan bau knalpot menyesak jantung. Uh, lega bisa nyampai di simpang empat Durian Tarung karena setelah melewati Jembatan Kuranji belok kiri dan belok kanan nyampai sudah di Taruko II. Tapi macet dan tidak bisa jalan dan ternyata sudah 2 jam berlalu semenjak dari Kotobaru yang biasanya hanya butuh 30 menit dengan si Megapro.


Para pemuda meminta kendaraan memutar arah ke Kampung Kalawi karena kemacetan di atas Jembatan Kuranji dan dikhawatirkan jembatan tersebut bisa runtuh. Wah, batal deh rencana untuk ketemu dengan si Hafiz dan terpaksa kami berputar 360 derajat dan dengan perlahan memutar kearah kanan menuju Kampung Kalawi. Tapi jalanan Alai-Bypass yang sudah sekian tahun mau dilebarkan ini begitu merana menampung arus kepanikan timbal balik diatas tubuhnya, ndak bisa jalan aku sementara si Ghozi dan Syakira sudah kegerahan dan kehausan (Makanya besok-besok kalau mo pergi jangan lupa bawa air minum karena pada kondisi panik seperti ini tidak ada yang jualan coy.)


Baru sekitar pertengahan jalan mau ke Kampung Kalawi ada tempat menepi yang agak renggang dari peserta kepanikan yang sedang melepas lelah. Kami pun berhenti dan ada yang jualan air aqua gelas 1000 satu, biasanya sih 500 rupiah. Wah segeer,..bisa istirahat setelah mengharungi lautan manusia yang juga letih bener dan wajah kami sudah pada kusut dan lelah.


Waktu sudah menunjukkan jam 10 malam dan Ummi meminta aku supaya meninggalkan mereka disitu dan aku sesegera mungkin berjalan kaki aja ke Taruko untuk melihat kondisi Hafiz yang sudah sejak pagi kami tinggalkan (Dia sekolah di SD Adzkia dan biasaya jam 14.30 sudah pulang). Aku menyusuri jalanan dengan perlahan, meraba-raba karena sejak jam 6 sore tadi PLN sudah memadamkan arus listrik, perlahan-lahan sambil permisi pada orang-orang akhirnya sampai juga aku melewati simpang tiga Kampung Kalawi sebelum jembatan Kalumbuk. Melewati Jembatan Kalumbuk yang tidak terlalu rame sampailah aku di jalan Kalumbuk yang kondisinya cukup macet juga. Dan sesampai di Komplek Taruko II aku disambut oleh hamparan orang-orang yang duduk dan tidur-tiduran di jalanan karena rumah-rumah tidak bisa dihuni dan juga takut jika datang gempa susulan.


Alhamdulillah si Hafiz sehat-sehat saja malahan kata Pak Syukri dia sangat tenang sewaktu peristiwa gempa sore tadi. Hafiz melarang aku untuk masuk kerumah yang gelap dan berantakan, katanya takut nanti aku ketimpa reruntuhan. Ternyata si Oom depan rumah dibawa kerumah sakit karena tertimpa dinding rumah yang roboh (Beliau meninggal dunia seminggu kemudian di rumah sakit). Dengan ditemani oleh Hafiz, aku masuk kedalam rumah yang sangat berantakan, isi lemari sudah berserakan di lantai. Eeh, ternyata sewaktu ganti pakaian telpon rumah berdering dan Hafiz menerima telpon menyampaikan agar Aku segera menjemput Ummi dan anak-anak karena mereka sudah kedinginan dan bau karena kecebur di bandar butek di depan tempat istirahat mereka. Wah kasihan deh,..udah kelaparan kecebur, basah dan bau lagi. Maka dengan setengah berlari, bergegas aku ke Kampung Kalawi dan Alhamdulillah jalanan Alai-Bypass tidaklah semacet tadi sehingga akhirnya si mega pro bisa meluncur ke Taruko II.


Alhamdulillah, nyampai dirumah dan ummi langsung membentangkan tikar diluar rumah bergabung dengan para tetangga lainnya tapi hujan turun dengan lebatnya sehingga semua orang harus masuk kedalam rumah. Sekian dulu cerita kenangan ini dan mudah-mudahan kelanjutannya dapat kuselesaikan dikemudian hari.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar